Jumat, 20 Juli 2007

Wayang Tengul Menjerat Tradisi

Kesenian tradisional wayang tengul Bojonegoro menjadi saksi sejarah kesenian rakyat di negeri ini. Ia tampil melakonkan cerita kekinian tanpa meninggalkan keasliannya. Ia tegar mengiringi jaman yang bangsanya kian beringsut dari seni tradisinya.

Bumi Citra Raya Surabaya malam itu tampak semarak. Warga kota berkerumun di depan Kahyangan Art and Resto. Mereka kelihatan riang dan asyik menikmati suara pesinden yang tengah melantunkan gending campursari dengan iringan gamelan. Sambil menyimak alunan suara sinden, mata mereka menatap tajam ke arah panggung.
Di atas panggung terlihat seorang laki-laki dengan lincah tangannya memainkan benda mirip patung kayu. Dia adalah dalang Mbah Mardji Marto Degleg yang saat itu tengah mementaskan kesenian tradisional wayang tengul. Malam itu dia diundang khusus oleh pemilik restoran untuk tampil sebagai penyaji dalam acara Festival Seni Kahyangan.
Suka cita dan keceriaan ternyata bukan hanya milik warga. Kebahagiaan juga nampak terpancar pada raut muka Mbah Mardji. Dia bahagia karena kali ini mendapat kehormatan pentas mengisi acara festival seni tradisi di luar Bojonegoro, daerah yang selama ini jadi arena pelestarian wayang tengul. Bersama istrinya yang sekaligus menjadi pesindennya, Mbah Mardji mendalang begitu bersemangat, diiringi lebih kurang 24 kru pendukung dari grup sekar laras “Angling Dharmo” dari Desa Sukowati, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro.
Kegembiraan dalang yang memiliki nama asli Sumardji ini bukan hanya lantaran dia bisa tampil pada acara khusus. Tapi, yang lebih membanggakan dirinya adalah pementasan wayang tengul kali ini seolah menunjukkan jika kesenian itu masih ada. Meski, entah publik seperti apa yang turut menikmati pementasan itu.
Daerah Bojonegoro adalah ruang kondusif untuk keberadaan wayang tengul. Hal ini tercermin pada eksistensi para dalang wayang itu sendiri. Menurut Widji Soenoko, Kepala Seksi Kesenian Masyarakat Dinas Pariwisata & Kebudayaan Kabupaten Bojonegoro, terdapat 14 dalang wayang tengul di Bojonegoro. Salah satu alasan inilah mengapa hak paten Bojonegoro sebagai kota wayang tengul diraih dari Depkumham pada 2004 silam.
Sebagaimana wayang timplong asal Ngajuk, wayang golek khas Bojonegoro ini pun bisa terus hidup dan berkembang, karena komunitas masyarakat di pedesaan yang menghargai nilai-nilai seni tradisi itu sendiri. Realitas itu terbaca ketika dalam bulan-bulan tertentu warga masyarakat sedang punya hajatan, sebut misalnya hajatan pernikahan, sunatan, dan sedakah bumi, selalu mengadakan pementasan wayang tengul. Khususnya bulan Sapar, Besar, dan Bakda Mulud biasanya ramai tanggapan.
Selain di Bojonegoro, wayang ini kerap dipentaskan di daerah lain seperti Tuban, Lamongan, Gresik, Nganjuk, dan Blora, Jawa Tengah. Tarif tanggapan berkisar antara Rp 3 juta – Rp 5 juta. Jika pentas di luar Bojonegoro tentu bisa bertambah, untuk biaya transportasi dan akomodasi.
Berbeda dari wayang purwo atau wayang kulit, wayang tengul terbuat dari kayu berbentuk tiga dimensi (golek/boneka). Bentuk wayang ini pernah mengalami perubahan. Golek kayu buatan perajin dulu polanya klasik; bentuk wajahnya gepeng dan tata make up-nya unik. Tapi kemudian tata bentuk dan tata rias wayang tengul menjadi seperti orang biasa, seperti pemain ketoprak ketika digarap oleh Mardanis (alm), perajin wayang tengul ternama.
Sejak itu, karakter tokoh prianya kelihatan lebih gagah, dan tokoh wanitanya terlihat cantik. Sementara dari aspek pertunjukan tidak berbeda jauh dengan pertunjukan wayang kulit, karena iringan musiknya menggunakan gamelan slendro dan pelog lengkap serta waranggana (sinden). Satu kotak perangkatnya bisa mencapai 200-300 tokoh wayang. Saat pertunjukan, hanya beberapa tokoh yang dimainkan sesuai cerita yang dipentaskan.

Cerita Panji
Tidak seperti wayang purwo yang dibatasi pakem, ceritanya berkisar pada epos Ramayana atau Mahabarata, wayang tengul pakelirannya terbuka. Sajian wayang jenis ini bebas menentukan cerita berdasar tema-tema tertentu, seperti cerita Panji, babat asal usul daerah, majapahitan, walisongo jaman mataram, atau cerita menak macam 1001 malam.
Widji mengharapkan, pertunjukan wayang tengul tidak hanya sebatas ritual. Tidak sebatas teng-mak-ngul (asal kata tengul, red) yang berarti sekali muncul langsung mengingatkan orang pada Yang Maha Kuasa. Tapi juga methungul-methungul (asal kata tengul yang lain, red) yang bermakna sering muncul, di mana-mana. Dengan demikian, tambahnya, seni pertunjukan rakyat ini bisa dikolaborasikan dengan kesenian yang lain, sehingga tetap dapat diterima di segala jaman.
Karena itu, tandas Widji, peran dalang amat besar terhadap pelestarian wayang ini. Pertunjukan seni rakyat ini akan tetap faktual, jika dalang mampu menampilkan keterampilan lebih dalam melakonkan cerita. Mampu memodifikasi cerita-cerita kontemporer, pandai memainkan gerak-gerak para tokoh wayang, dan mampu menampilkan kekinian dalam tata busana, rias, dan tata gerak.
Sebuah lakon Wahyu Katentreman yang sering dimainkan dalang berikut ini akan memberi gambaran sekilas tentang pertunjukan wayang tengul. Lakon cerita ini biasanya dimainkan selama lebih kurang tiga jam. Inti ceritanya, Kerajaan Gunaparman dirundung kegalauan, ditinggalkan oleh Rajanya Prabu Umarmoyo karena dituduh membunuh Prabu Lokayanti dari Lokantara yang masih saudaranya sendiri.
Di dalam pengembaraan untuk mendapatkan petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa, Prabu Umarmoyo dihalang-halangi oleh Prabu Manon Sembowo dari Kerajaan Njabalkat. Maka perang tak dapat dihindarkan, dan alhasil Prabu Umarmoyo dapat dikalahkan.
Lantaran kekalahan dari Prabu Manon Sembowo, Prabu Umarmoyo bertapa di Alas Tuwo dan menerima petunjuk lewat Baginda Sulaiman yang berisi nilai-nilai tentang; sabar, tawakal, ikhlas, jujur, dan bersungguh-sungguh di dalam menjalankan pemerintahan. Ia juga diperintahkan segera kembali ke Kerajaan Gunaparman karena kerajaan diduduki Prabu Manon Sembowo.
Kepulangan Prabu Umarmoyo disambut perang oleh Prabu Manon Sembowo. Sebelum meninggal ia mengakui bahwa yang membunuh Prabu Lokayanti adalah dirinya sendiri karena ingin menduduki Kerajaan Lokantara yang gemah ripah loh jinawi.
Pertunjukan wayang tengul ini pun berakhir dengan manis ketika ditutup tari golek dengan iringan gending Angleng jawa-timuran. Tarian lemah gemulai nan lembut dari wayang golek perempuan yang dimainkan dengan cantik oleh ki dalang, biasanya mendapat apresiasi yang seru dari penonton.

Asal Usul
Wayang tengul sering juga disebut wayang menak. Sejenis dengan wayang golek hanya bentuk fisik dan asesorisnya berbeda. Biasanya, ada semacam ritual yang mereka lakukan setiap akan memasuki sebuah desa untuk sebuah pertunjukan. Sang dalang selalu melakonkan satu babak cerita di dekat pepunden atau makam keramat. Ritual ini konon sebagai ungkapan minta izin pada Sang Bahurekso penguasa alam gaib desa setempat karena mereka akan mengamen di wilayahnya. Sekaligus mereka minta dijauhkan dari malapetaka.
Konon, wayang tengul berasal dari Wali Songo ketika mendirikan Masjid Agung Demak, Jawa Tengah. Untuk merayakannya, setiap masyarakat diminta membuat wayang dari kayu yang menyerupai manusia. Wayang tersebut kemudian dimainkan Sunan Kalijaga sebagai media dakwah syiar Islam.
Kisah lain menyebutkan, wayang tengul berasal dari Kitab Menak dengan latar belakang budaya Arab. Cerita menak disadur dari kepustakaan Persia berjudul Qissai Emir Hamzah yang dibuat pada zaman Sultan Harun al-Rasyid pada 766 hingga 809 sebelum Masehi.
Dalam kesusasteraan Melayu, cerita itu lebih dikenal dengan judul Hikayat Amir Hamzah. Namun, ceritanya dialihbahasakan ke dalam bahasa Jawa. Kisah dalam kitab ini sudah berbaur dengan cerita-cerita panji babad tanah Jawa hingga runtuhnya Majapahit.
Serat menak ini sempat diubah oleh Yosodipuro, pujangga besar Surakarta, pada 1729 hingga 1802. Selain dibuat dalam bahasa Jawa, falsafah ceritanya juga diubah sehingga lebih mudah dicerna oleh masyarakat Jawa. Karenanya, tokoh-tokoh dalam wayang tengul atau menak juga disesuaikan dengan lidah Jawa. Seperti pengucapan Umar bin Umayah menjadi Umar Maya.
Di Jawa Timur, wayang tengul masih sering dimainkan di daerah Bojonegoro. Tak heran jika kesenian ini agak sulit ditemukan. Mungkin dari sekian dalang yang ada di Bojonegoro, hanya Mbah Mardji yang tetap berusaha melestarikan hingga akhir hayatnya. Toh jauh di relung hati Mbah Mardji masih tersimpan kerisauan. Akankah kesenian leluhur ini mampu bertahan seperti yang selama ini dia perjuangkan. Entah sampai kapan kegalauan itu menyelimuti batin Mbah Mardji. Yang jelas, ditengah jaman yang sedemikian jauh meninggalkan kesenian tradisi, Mbah Mardji tetap setia mengamen wayang demi tujuan lestarinya wayang tengul. -hm

--- BOKS ---
Mbah Mardji Ngudi Budoyo

Diantara sederet dalang wayang tengul di Bojonegoro, nama Mbah Mardji Marto Degleg patut mendapat apresiasi lebih. Wayang tengul baginya sudah mendarah daging. Di saat orang sudah melupakan kesenian tradisional ini, dia rela ngamen wayang ke pelosok desa agar seni leluhur tersebut tetap dikenal.

Nasib wayang tengul mungkin tak sebaik wayang kulit atau wayang purwa. Perjalanan seni tradisional ini terseok-seok bahkan di “laboratorium” atraksinya sendiri di Bojonegoro. Namun, Mbah Mardji hingga kini dan mungkin sampai akhir hayatnya akan tetap berusaha memelihara dan melestarikannya. Upayanya tak main-main. Selain mendalang pada acara tertentu, Mbah Mardji bersama grupnya Angling Dharmo juga sering ngamen wayang. Mereka rela mengamen berkilo-kilometer jauhnya menyusuri jalanan desa. Kecintaannya yang tinggi terhadap kesenian leluhur yang membuat dirinya mau melakukan hal seperti itu.
Biasanya, sebelum berkeliling, Mbah Mardji bersama anak buahnya sibuk menyiapkan peralatan. Pengeras suara, misalnya, dipasang di depan stang kemudi sepeda. Kemudian berbagai macam alat gamelan pun dikeluarkan dan ditumpuk di atas becak. Mbah Mardji beserta rombongannya akan melakukan pekerjaan ngamen wayang. Sebuah profesi yang sudah dilakoninya selama bertahun-tahun.
Kata Mbah Mardji, ngamen wayang pertama kali dilakukan pada 1984. Saat itu, untuk mendapatkan bahan makanan sangat sulit karena Kabupaten Bojonegoro tengah dilanda kemarau berkepanjangan. Sementara saat musim hujan, Sungai Bengawan Solo selalu meluap. Mbah Mardji pun akhirnya berinisiatif untuk mengamen wayang tengul keliling desa dengan upah berupa bahan makanan.
Belakangan kehidupan mereka mulai berubah, namun sulit bagi Mbah Mardji serta kelompoknya meninggalkan kebiasaan itu. Mereka selalu setia mendatangi undangan orang yang memintanya mendalang di acara hajatan, sunatan maupun ruwatan. Kecintaan Mbah Mardji terhadap wayang tengul boleh dikata sudah mendarah daging. Sejak kecil dia sudah menunjukkan bakatnya. Darah seninya diraih dari kakek dan orang tuanya Niti Giatmono yang lebih dikenal sebagai dalang kencik. Keduanya termasuk dalang terkenal waktu itu.
Meski orangtua dan kakeknya dalang ternama, namun Sumardji kecil tidak berani memegang wayang tengul milik orangtuanya. Ia takut dimarahi. Untuk melampiaskan kecintaannya, setiap pulang sekolah Mardji selalu singgah ke makam keramat di desanya. Di tempat itu dia membuat wayang tengul dari lumpur kuburan.
Ketika menginjak kelas empat sekolah dasar, bakatnya semakin terlihat. Sekolahnya pun kemudian mengikutsertakannya pada lomba dalang cilik. Di luar dugaan ia berhasil menyabet juara satu. Sejak itulah, ia mengadu kepada orang tuanya dan ingin membantu setiap akan pentas. Akhirnya, Mbah Mardji pun diajak dan dibimbing orang tuanya memainkan wayang tengul dengan baik dan benar.
Setelah orang tuanya meninggal, Mbah Mardji pun akhirnya menggantikan posisinya hingga sekarang. Kenangan saat belajar menjadi dalang dari orangtuanya, dia pun tergerak untuk menularkan ilmunya kepada yang lain. Hingga kini, Mbah Mardji kerap mengajarkan wayang tengul kepada anak-anak di desanya.
Mbah Mardji sehari-harinya hanyalah seorang petani biasa. Saat tidak sedang mendalang, dia bersama istrinya pergi ke ladang menengok tanaman singkongnya. Kebunnya tak begitu luas berada di pinggiran hutan pohon jati, yang disewa dari Perhutani. Meski tanahnya tergolong gersang, namun baginya lebih dari cukup untuk menunjang hidup.
Sikap pasrah dan menerima apa adanya seolah bertepuk dua tangan dengan kecintaan mereka terhadap seni wayang tengul. Buktinya tak hanya di atas panggung. Di tengah kebun pun istri Mbah Mardji senang melantunkan tembang-tembang Jawa.
Kelompok Angling Dharmo yang dikomandani Mbah Mardji biasanya berkumpul di kediaman Supardi, di Desa Sidodadi, Kecamatan Sukosewu, Bojonegoro. Selain kumpul-kumpul mereka juga biasa membuat wayang tengul. Supardi sendiri selain pandai menabuh gamelan, juga memiliki keahlian membuat wayang. Kesibukan mereka mulai terasa sejak pagi. Mereka memilih bahan dari kayu pohon randu alas. Satu tokoh wayang biasanya diselesaikan dalam rentang waktu satu hingga empat hari. Selebihnya, kelompok ini tak henti-hentinya berkeliling desa mengamen wayang, atau memenuhi undangan pentas di berbagai tempat. –hm

Tidak ada komentar: